Mengapa Hawa tercipta saat Adam tertidur dan Hawa melahirkan saat dirinya terbangun??

Seorang laki-laki jika dia kesakitan, maka dia akan membenci. Sebaliknya wanita, saat dia kesakitan, maka semakin bertambah sayang dan cintanya,, Seandainya Hawa diciptakan dari Adam As saat Adam terjaga, pastilah Adam akan merasakan sakit keluarnya Hawa dari sulbinya, hingga dia membenci Hawa. Akan tetapi Hawa diciptakan dari Adam saat dia tertidur, agar Adam tidak merasakan sakit dan tidak membenci Hawa. Sementara seorang wanita akan melahirkan dalam keadaan terjaga, melihat kematian dihadapannya, namun semakin sayang dan cinta nya kepada anak yang dilahirkan bahkan ia akan menebus nya dengan kehidupannya.

Sesungguhnya Allah menciptakan Hawa dari tulang rusuk yang bengkok yang tugasnya adalah melindungi Qalbu(jantung, hati nurani). Oleh karena itu, tugas Hawa adalah menjaga qalbu. Kemudian Allah menjadikan nya bengkok untuk melindungi qalbu dari sisi yang kedua. Sementara Adam diciptakan dari tanah, dia akan menjadi petani, tukang batu, tukang besi, dan tukang kayu. Wanita selalu berinteraksi dengan perasaaan, dengan hati, dan wanita akan menjadi seorang ibu yang penuh kasih sayang, seorang saudari yang penyayang, seorang putri yang manja, dan seorang istri yang penurut.

Dan wajib bagi Adam untuk tidak berusaha meluruskan tulang yang bengkok tersebut, seperti yang dikabarkan oleh Nabi Muhammad SAW, “jika seorang lelaki meluruskan yang bengkok tersebut dengan serta merta, maka dia akan mematahkannya.” Maksud nya adalah dengan kebengkokan tersebut adalah perasaan yang ada pada diri seorang wanita yang mengalahkan perasaan seorang laki-laki.

Maka wahai Adam janganlah merendahkan perasaan Hawa, dia memang diciptakan seperti itu. Apabila seseorang wanita mengatakan dia sedang bersedih, tetapi dia tidak menitikkan airmata, itu berarti dia sedang menangis di dalam hatinya. Apabila dia tidak menghiraukan kamu setelah kamu menyakiti hatinya, lebih baik beri dia waktu untuk menenangkan hatinya sebelum kamu meminta maaf. Dan wanita sulit untuk mencari sesuatu yang dia benci untuk orang yang paling dia sayang

Tinggalkan komentar

Filed under tausiah

Semangkuk Bakso

Dikisahkan, biasanya di hari ulang tahun Putri, ibu pasti sibuk di dapur memasak dan menghidangkan makanan kesukaannya. Tepat saat yang ditunggu, betapa kecewa hati si Putri, meja makan kosong, tidak tampak sedikit pun bayangan makanan kesukaannya tersedia di sana. Putri kesal, marah, dan jengkel.
“Huh, ibu sudah tidak sayang lagi padaku. Sudah tidak ingat hari ulang tahun anaknya sendiri, sungguh keterlaluan,” gerutunya dalam hati. “Ini semua pasti gara-gara adinda sakit semalam sehingga ibu lupa pada ulang tahun dan makanan kesukaanku. Dasar anak manja!”
Ditunggu sampai siang, tampaknya orang serumah tidak peduli lagi kepadanya. Tidak ada yang memberi selamat, ciuman, atau mungkin memberi kado untuknya.
Dengan perasaan marah dan sedih, Putri pergi meninggalkan rumah begitu saja. Perut kosong dan pikiran yang dipenuhi kejengkelan membuatnya berjalan sembarangan. Saat melewati sebuah gerobak penjual bakso dan mencium aroma nikmat, tiba-tiba Putri sadar, betapa lapar perutnya! Dia menatap nanar kepulan asap di atas semangkuk bakso.
“Mau beli bakso, neng? Duduk saja di dalam,” sapa si tukang bakso.
“Mau, bang. Tapi saya tidak punya uang,” jawabnya tersipu malu.
“Bagaimana kalau hari ini abang traktir kamu? Duduklah, abang siapin mi bakso yang super enak.”
Putri pun segera duduk di dalam.
Tiba-tiba, dia tidak kuasa menahan air matanya, “Lho, kenapa menangis, neng?” tanya si abang.
“Saya jadi ingat ibu saya, nang. Sebenarnya… hari ini ulang tahun saya. Malah abang, yang tidak saya kenal, yang memberi saya makan. Ibuku sendiri tidak ingat hari ulang tahunku apalagi memberi makanan kesukaanku. Saya sedih dan kecewa, bang.”
“Neng cantik, abang yang baru sekali aja memberi makanan bisa bikin neng terharu sampai nangis. Lha, padahal ibu dan bapak neng, yang ngasih makan tiap hari, dari neng bayi sampai segede ini, apa neng pernah terharu begini? Jangan ngeremehin orangtua sendiri neng, ntar nyesel lho.”
Putri seketika tersadar, “Kenapa aku tidak pernah berpikir seperti itu?”
Setelah menghabiskan makanan dan berucap banyak terima kasih, Putri bergegas pergi. Setiba di rumah, ibunya menyambut dengan pelukan hangat, wajah cemas sekaligus lega,
“Putri, dari mana kamu seharian ini, ibu tidak tahu harus mencari kamu ke mana. Putri, selamat ulang tahun ya. Ibu telah membuat semua makanan kesukaan Putri. Putri pasti lapar kan? Ayo nikmati semua itu.”
“Ibu, maafkan Putri, Bu,” Putri pun menangis dan menyesal di pelukan ibunya. Dan yang membuat Putri semakin menyesal, ternyata di dalam rumah hadir pula sahabat-sahabat baik dan paman serta bibinya. Ternyata ibu Putri membuatkan pesta kejutan untuk putri kesayangannya.
=====================================================
Saat kita mendapat pertolongan atau menerima pemberian sekecil apapun dari orang lain, sering kali kita begitu senang dan selalu berterima kasih. Sayangnya, kadang kasih dan kepedulian tanpa syarat yang diberikan oleh orangtua dan saudara tidak tampak di mata kita. Seolah menjadi kewajiban orangtua untuk selalu berada di posisi siap membantu, kapan pun.
Bahkan, jika hal itu tidak terpenuhi, segera kita memvonis, yang tidak sayanglah, yang tidak mengerti anak sendirilah, atau dilanda perasaan sedih, marah, dan kecewa yang hanya merugikan diri sendiri. Maka untuk itu, kita butuh untuk belajar dan belajar mengendalikan diri, agar kita mampu hidup secara harmonis dengan keluarga, orangtua, saudara, dan dengan masyarakat lainnya.Sumber : andriewongso.com

Tinggalkan komentar

Filed under Cerpen Penuh Inspirasi

SAYA SUDAH BOSAN HIDUP

Seorang pria mendatangi seorng Ustadz, “Ustadz, saya sudah bosan hidup. Sudah jenuh betul. Rumah tangga saya berantakan. Usaha saya kacau. Apapun yang saya lakukan selalu berantakan. Saya ingin mati.”
Sang Ustadz tersenyum, “Oh, kamu sakit.” “Tidak Ustadz, saya tidak sakit. Saya sehat. Hanya jenuh dengan kehidupan. Itu sebabnya saya ingin mati.”
Seolah-olah tidak mendengar pembelaannya, sang Ustadz meneruskan, “Kamu sakit. Dan penyakitmu itu sebutannya, ‘Alergi Hidup’. Ya, kamu alergi terhadap kehidupan.”
Banyak sekali di antara kita yang alergi terhadap kehidupan. Kemudian, tanpa disadari kita melakukan hal-hal yang bertentangan dengan norma kehidupan. Hidup ini berjalan terus. Sungai kehidupan mengalir terus, tetapi kita menginginkan status-quo. Kita berhenti di tempat, kita tidak ikut mengalir. Itu sebabnya kita jatuh sakit. Kita mengundang penyakit. Resistensi kita, penolakan kita untuk ikut mengalir bersama kehidupan membuat kita sakit.
Yang namanya usaha, pasti ada pasang-surutnya. Dalam hal berumah-tangga, bentrokan-bentrokan kecil itu memang wajar, lumrah. Persahabatan pun tidak selalu langgeng, tidak abadi. Apa sih yang langgeng, yang abadi dalam hidup ini? Kita tidak menyadari sifat kehidupan. Kita ingin mempertahankan suatu keadaan. Kemudian kita gagal, kecewa dan menderita.
“Penyakitmu itu bisa disembuhkan, asal kamu ingin sembuh dan bersedia mengikuti petunjukku.” demikian sang Ustadz.
“Tidak Ustadz, tidak. Saya sudah betul-betul jenuh. Tidak, saya tidak ingin hidup.” pria itu menolak tawaran sang Ustadz.
“Jadi kamu tidak ingin sembuh. Kamu betul-betul ingin mati?” “Ya, memang saya sudah bosan hidup.”
“Baik, besok sore kamu akan mati. Ambillah botol obat ini. Setengah botol diminum malam ini, setengah botol lagi besok sore jam enam, dan jam delapan malam kau akan mati dengan tenang.”
Giliran dia menjadi bingung. Setiap Ustadz yang ia datangi selama ini selalu berupaya untuk memberikannya semangat untuk hidup. Yang satu ini aneh. Ia bahkan menawarkan racun. Tetapi, karena ia memang sudah betul-betul jenuh, ia menerimanya dengan senang hati. Pulang kerumah, ia langsung menghabiskan setengah botol racun yang disebut “obat” oleh Ustadz edan itu. Dan, ia merasakan ketenangan sebagaimana tidak pernah ia rasakan sebelumnya.
Begitu rileks, begitu santai! Tinggal 1 malam, 1 hari, dan ia akan mati. Ia akan terbebaskan dari segala macam masalah. Malam itu, ia memutuskan untuk makan malam bersama keluarga di restoran Jepang. Sesuatu yang sudah tidak pernah ia lakukan selama beberapa tahun terakhir. Pikir-pikir malam terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis. Sambil makan, ia bersenda gurau. Suasananya santai banget!
Sebelum tidur, ia mencium bibir istrinya dan membisiki di kupingnya, “Sayang, aku mencintaimu”. Karena malam itu adalah malam terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis! Esoknya bangun tidur, ia membuka jendela kamar dan melihat ke luar. Tiupan angin pagi menyegarkan tubuhnya. Dan ia tergoda untuk melakukan jalan pagi. Pulang kerumah setengah jam kemudian, ia menemukan istrinya masih tertidur. Tanpa membangunkannya, ia masuk dapur dan membuat 2 cangkir kopi. Satu untuk dirinya, satu lagi untuk istrinya. Karena pagi itu adalah pagi terakhir,ia ingin meninggalkan kenangan manis!
Sang istripun merasa aneh sekali Selama ini, mungkin aku salah. “Maafkan aku, sayang.”
Di kantor, ia menyapa setiap orang, bersalaman dengan setiap orang. Stafnya pun bingung, “Hari ini, Boss kita kok aneh ya?” Dan sikap mereka pun langsung berubah. Mereka pun menjadi lembut. Karena siang itu adalah siang terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis!
Tiba-tiba, segala sesuatu di sekitarnya berubah. Ia menjadi ramah dan lebih toleran, bahkan apresiatif terhadap pendapat-pendapat yang berbeda. Tiba-tiba hidup menjadi indah. Ia mulai menikmatinya. Pulang kerumah jam 5 sore, ia menemukan istri tercinta menungguinya di beranda depan.
Kali ini justru sang istri yang memberikan ciuman kepadanya, “Sayang, sekali lagi aku minta maaf, kalau selama ini aku selalu merepotkan kamu.” Anak-anak pun tidak ingin ketinggalan, “Pi, maafkan kami semua. Selama ini, Papi selalu stres karena perilaku kami.”
Tiba-tiba, sungai kehidupannya mengalir kembali. Tiba-tiba, hidup menjadi sangat indah. Ia mengurungkan niatnya untuk bunuh diri. Tetapi bagaimana dengan setengah botol yang sudah ia minum, sore sebelumnya?
Ia mendatangi sang Ustadz lagi. Melihat wajah pria itu, rupanya sang Ustadz langsung mengetahui apa yang telah terjadi, “Buang saja botol itu. Isinya air biasa. Kau sudah sembuh, Apa bila kau hidup dalam kekinian, apabila kau hidup dengan kesadaran bahwa maut dapat menjemputmu kapan saja, maka kau akan menikmati setiap detik kehidupan. Leburkan egomu, keangkuhanmu, kesombonganmu. Jadilah lembut, selembut air. Dan mengalirlah bersama sungai kehidupan. Kau tidak akan jenuh, tidak akan bosan. Kau akan merasa hidup. Itulah rahasia kehidupan. Itulah kunci kebahagiaan. Itulah jalan menuju ketenangan.”
Pria itu mengucapkan terima kasih dan menyalami Sang Ustadz, lalu pulang ke rumah, untuk mengulangi pengalaman malam sebelumnya. Konon, ia masih mengalir terus. Ia tidak pernah lupa hidup dalam kekinian. Itulah sebabnya, ia selalu bahagia, selalu tenang, selalu HIDUP!!!
Hidup? bukanlah merupakan suatu beban yang harus dipikul?. tapi merupakan suatu anugrah untuk dinikmati

Tinggalkan komentar

Filed under Cerpen Penuh Inspirasi

Akhwat Unik

Jumat pagi itu rumah Dodo begitu ramai disesaki oleh para ibu-ibu sekampung, karena menurut rencana Si Ipeh kakaknya akan melaksanakan Akad Nikah, setelah ustadzahnya memperkenalkan seorang pria yang sangat hanif. Dodo keliling rumah mencari sang kakaknya tapi gak nemu-nemu.

“Haduuuhh, jatuh dimane sich ni orang, perasaan tadi gue kantongin dech! Mpoookk… oi Mpok, dimane sich ni orang” teriak si Dodo sambil ngeliat kedalam kantongnya serta mengangakat barang-barang ada di sekitarnya, dasar ni anak gokilnya nggak ketulungan, nyari recehan ato nyari orang.

Dodo belum juga menyerah, akhirnya dia ketengah ibu-ibu.

“Ncing-Ncing ade nyang liat Mpok aye kagak nich, dicariin dari tadi susye amat yak? Noh, temen-temennye pade dateng, aye rada tengsin ngadepin cewek berjilbab gede mah” ujar si Dodo ke ibu-ibu yang sedang memasak persiapan akad nikah.

“Laah, elu nyang punye kakak, nape kite-kite yang repot yak?.” Jawab salah satu ibu yang anaknya jadi gebetan abadi si Dodo, Bu Ijah.

“hidiih ni orang tua, klo kagak mikir gue naksir anaknye udah gue ledekin lu” bathin si Dodo. Akhirnya si Dodo pergi kesumur karena putus Asa, tapi dia bukan mau bunuh diri, tapi nyari bantuan yang laen, Emaknya.

“Nyak, Mpok mane ye? Nooh didepan ade yang nyariin.”

“Sape yang nyariin Mpok lu?”

“Tuuh, Malaikat Maut.” Jawab Dodo sekenanya, ni anak udah beda tipis ama Budi Anduk tapi kalau ngomong asal ngecablak.

“Huss, lu ngomong ape ngeden, Mpok sendiri digituin, amit-amit jabang bayi.” Jawab Emaknye sewot sambil ngusel-ngusel perut.

“Gian dicariin dari tadi juga, udah mau jadi bini orang masih aje petakilan, dasar akhwat gaje.” Gerutu si Dodo nggak kalah sewotnya.

“Mpok lu kali aje cari ketenangan, biar nanti rada fresh pas ijab qabul.” Jawab emaknya.

“Ntu didepan temen-temenya pade dateng, bete’ ah ngeliat mereka, diajak ngomong malah nunduk, trus aye nunduk yang diajak ngomong malah ngeliatin aye, kan jadi tengsin.” Jawab si Dodo yang rada manyun.

“Lah, elu aje yang mati ke-GR-an” ledek emaknya

“Idiih, Enyak, mane ade orang yang mati ke-GR-an, yang ada tuh mati kecelakaan, keracunan dan keenakan, noh yang sering mati keenakan para bos-bos kayu.. hihi.” Jawab si Dodo rada gila, si Emak mah maklumin aja sifat anaknya yang satu itu. Soalnya langka punya anak laki yang nakal tapi care ama keluarga. Bukti si Dodo care ama keluarga, pas bapaknya sibuk ngitung gajian dia bantuin ngitungin ntu duit. Hebatkan anak jama sekarang.

Karena puyeng Dodo nyari si kakak nggak juga nongol, Dodo pergi ketoko mau beli cemilan, dijalan dia ketemu si Eki anaknya Bu Ijah yang sedang masak dirumahnya.

“Hei Do, mau kemane?.” Tanya Eki penuh ceria.

“Mau ke warung Ki.” Jawab Dodo rada tersipun, karena sang pujaan lewat didepan mata dan menegur dengan penuh kelembutan.

“Mau beli apa?”

“Beli Mobil, untuk kita jalan-jalan”

“Iiichh, norak aahh.” Jawab si Eki langsung ngelonyor ninggalin Dodo yang kambuh gilanya.

“Eeehh, Eki tunggu, gue ada nebakin nich buat lo”

“Apaan..?

“Tivi apa yang bisa jatuh cinta”

“TV yang nayangin acara reality show ?.”

“Salah, Tivi yang bisa jatuh cinta itu adalah Tivikir-vikir aku dech yang jatuh cinta ama lo.” Jawab si Dodo

“Ahh, garing tau’, dah gue mau nyari mak gue dulu” sewot si Eki. “ehh tapi gue juga punya tebakan ni buat lo, Mobil Apa yang jelek?” Tanya Eki balik.

“Mobilang gue kan, Asem lu! Jawab si Dodo.

“Tuh tau,,, hihi” Jawab si Eki, trus ngacir.

Dengan langkah seribu Eki meluncur kerumah Dodo buat cari emaknya. Dan Dodo meneruskan langkah menuju warung Mpok Ijun. Dari kejauhan dia ngeliat sesosok perempuan yang dia merasa kenal banget, makin deket ntu wajah bener-bener tidak asing lagi, bahkan ngebosenin. Ternyata sang perempuan adalah kakaknya sendiri. Lagi bengong ngeliatin barang jualan Mpok Ijun. Sambil mendeb-mendeb Dodo mendekati kakaknya.

“Doorr,, hayyoo kemane aje sih mpok, aye nyariin dari tadi juga, nggak taunye dimari. noohh, temen-temennye pade nunggu dari tadi.” Ujar Dodo sambil ngaggetin kakaknya, si Ipeh yang kaget cuma bisa ngurut dada atas ulah adiknya yang kayaknya permen nano-nano, Manis Asem Asin.

“Iye, suruh tunggu aja, mpok lagi sibuk nich”

“Sibuk apaan, clingak-clinguk kagak jelas githu”

“Mpok lu lagi ngapalin nama-nama sayur dan bumbu, die pan mau nikah. Biar nggak bingun kalo mau masak” Ujar Mpok Ijun yang dari tadi emang nggak betah ngeliatin si Ipeh clingak-clinguk.

“Husss,, mpok jangan gede-gede donk, aye pan malu!”

“huahaha,,, ude mau nikah kok nggak bisa masak?” ledek Dodo ke kakaknya

“Diem lu, bawel!”

Dengan tanpa rasa malu, demi memberi kebahagiaan kepada calon suami, Ipeh terus nanya-nanya sama mpok Ijun. Mpok Ijun Cuma bisa sabar saja, karena dia ngerasa apa yang dirasakan tetangganya yang unik itu.

“Mangkenye, berdakwah sich berdakwah, tapi sering-sering donk mampir kedapur, plototin kalau Nyak lu lagi masak.” Ujar Mpok Ijun

“Iye, aye nyesel juga mpok, tapi pan Insya Allah aye bisa kok masak.” Ujar si Ipeh penuh penyesalan dengan muka memelas. Hihi

“Trus mpok, beda Kunyit, Kencur, Jahe, dan Lengkuas gimana ya?”

“Lengkuas ama Jahe gampang bedainnye, kalo lengkuas itu keras daging umbinya, kalau jahe kagak. Rata-rata lengkuas biasanya buat sayur asem, gule nangka atau apalah, die Cuma di tumbuk aje kagak bisa dialusin, coz serabutnye banyak. Kalo jahe bagusnya dihalusi. Biasanya kalo lu mau bikin nasi uduk, biar wangi nasinye, lu giling halus jahe, bawang merah, trus bawang putih jangan lupa campur garem sedikit, trus haduk dech bareng santen kelapa jangan lupa daun pandan dan daun serainya.” Ujar Mpok Ijun panjang lebar.

“Trus kalo kunyit ama kencur apa bedanye trus buat masak apa ajha ” tanya si Ipeh lagi, karena dia tau itu bumbu pokok dalam masak-memasak, itupun taunya dari iniasiatif nanya sama mbah Google. Unik bener akhwat yang satu ini nggak beda jauh uniknya dengan adiknya si Dodo.

“Gini aje, tar kalau lu udah kawin, trus mau masak apeee ajee., lu datang aje dimari, cukup bilang beli bumbu campur. Nah didalam satu bungkus bumbu campur itu semua bumbu pokok ada. Nih mpok liatin ye. Nah kalau kunyit itu biasanya untuk pewarna, kalo lu mau bikin gule kambing atau gule ape aje, kunyit jangan ampe ketinggalan, trus kalo kencur,,, hmm kalo mpok sich masak jarang pakek kencur, kecuali kalau lagi bikin pecel.” Lagi-lagi mpok Ijun kudu jelasin panjang lebar ke Ipeh.

“Ooo… githu ya mpok.” Jawab si Ipeh

Dodo yang dari tadi ngeliatin Mpok Ijun jadi ngenes, kok kakaknya ampe segitunya nggak ngerti bumbu masak, sampe-sampe yang punya warung kudu ngelayanin plus-plus. Si Dodo jadi mikir unik bener cewek jaman sekarang, jangankan masak, sama bumbu aja kagak kenal.

“Nah, gimana udah ngerti belum Peh?” tanya Mpok Ijun.

“Kagak..!” Jawab Ipeh polos.

Gubragghh,, Mpok Ijun sudah nyerah sambil ngerlipin mata ke Dodo, seakan memberi kode “Kasian bener Mpok Lu”.

Tinggalkan komentar

Filed under Cerpen Penuh Inspirasi

Tuntunan Nabi Dalam Memilih Pasangan

Wanita itu dinikahi karena empat pertimbangan, kekayaannya, nasabnya, kecantikannya dan agamanya. Pilihlah wanita yang beragama niscaya kalian beruntung. (H.R. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah) Dalam hadist tersebut Nabi Muhamad Shalallahu Alaihi wa Salam memberikan tuntunan kepada kita agar memilih pasangan yang memiliki agama, maka kalian akan beruntung, fadzfar bizatiddin, taribat yadaka. Hadis itu tidak menyebut fadzfar mutadayyinatan (orang beragama) tetapi bidzatiddin, orang yang memiliki agama. Kata dzatiddin disini mengandung arti substansi (jauhar) atau sifat (ardl) , jadi wanita atau pria yang dzatiddin adalah orang yang beragama secara substansial atau dapat dilihat sifat-sifatnya sebagai orang yang mematuhi agama

Lalu apa substansi agama itu? secara vertikal orang yang memilih agama itu mengimani, meyakini sepenuhnya adanya Allah Sang Pencipta Yang Maha besar, Maha Adil, Maha Pemurah, Maha Pengampun, oleh karena itu sebagai manusia dan juga hamba Allah, ia tidak sanggup untuk sombong & sewenang-wenang. Secara horizontal orang yang beragama secara substansial akan berusaha secara maksimal menjadikan dirinya memberikan kemanfaatan maksimal kepada sesama karena tahu fungsi dan peran dirinya adalah pengejawantahan kasih sayang Allah bagi semesta alam.

Nah, bayangkan bila memiliki suami atau isteri yang karakteristik keberagamaannya seperti itu tentu saja janji Rasul akan terbukti, yakni memperoleh keberuntungan. Wanita atau pria bizatiddin, belum tentu yang lulusan sekolah agama karena hal itu baru indikator lahir. Karakteristik bidzatiddin akan terasa dalam berkomunikasi, dalam berinteraksi, yakni subtansi agamanya akan terasa menyejukkan, menenteramkan, membangun semangat, menumbuhkan etos , mengagumkan. Dalam realita kehidupan ada orang yang beragama lebih menonjolkan syari’at lahir sehingga agamanya nampak gebyar-gebyar tetapi setelah sering berkomunikasi, lama berinteraksi dan berkali-kali bertransaksi, lama-kelamaan gebyar-gebyar agamanya tidak bisa diapresiasi, hilang kekaguman, hilang respek, meski tidak sampai menjadi musuh. Sebaliknya ada orang yang nampaknya sangat sederhana keberagamaannya tetapi setelah lama berkomunikasi dan berinteraksi, kekaguman muncul, sangat respek dan menjadi sumber inspirasi dalam menghayati keindahan hidup.

Untuk mengenal lebih mendalam terhadap karakteristik psikologis dan dzatiddin seseorang juga dapat dicapai melalui kebersamaan dalam kepedulian terhadap problem-problem kemanusiaan, misalnya dalam bersama-sama memikirkan bagaimana mengentaskan kemiskinan, bagaimana menyelenggarakan pendidikan tepat guna bagi anak-anak miskin, bagaimana membela orang lemah. Nah dalam ajang kepedulian seperti itu jatidiri dzatiddin seseorang akan muncul secara orisinal. Jatuh cinta di medan juang seperti ini biasanya akan berlanjut menjadi pasangan suami isteri yang memiliki kesamaan visi, indah, bersemangat dan tetap berpikir besar, Jodoh yang dijumpai di medan juang kemanusiaan menjamin kesamaan visi.

Wassalam,

Tinggalkan komentar

Filed under tausiah

Pahala Kaum Hawa di Akhirat

Ketika membaca Al Quran kita dapat menemukan dalam berbagai ayat memberikan berita gembira kepada laki-laki yang beriman dengan bidadari yang sangat cantik dan berbagai kenikmatan lainnya atas pasangan atau bidadari tersebut. Namun bagaimana dengan kaum perempuan, apakah mereka mempunyai teman atau pasangan selain suaminya karena sebagian besar pernyataan mengenai pahala di akhirat ditujukan kepada laki-laki yang beriman? apakah pahala bagi perempuan yang beriman lebih sedikit daripada yang diperoleh laki-laki yang beriman?

Tidak ada keraguan sedikitpun bahwa pahala di akhirat nanti rndiberikan kepada laki-laki dan perempuan. Hal ini berdasarkan firman Alloh ‘Azza wa Jalla, yang artinya: ”Sesungguhnya Alloh tidak akan menyia-nyiakan amal orang yang beramal di antara kamu baik laki-laki maupun perempuan” (QS: Al Imran: 195)

”Dan barangsiapa yang mengerjakan amal saleh baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik” (QS: An Nahl: 97)

”Dan barangsiapa yang mengerjakan amal-amal shaleh, baik laki-laki maupun perempuan sedang ia orang beriman, mereka itu akan masuk surga” (QS: An Nisa’: 124)

”Sesungguhnya laki- laki dan perempuan muslim laki-laki dan perempuan yang beriman …hingga…Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar” (QS: Al Ahzab: 35)

Dalam ayat yang lain Alloh ‘Azza wa Jalla menyebutkan, yang artinya: “Mereka laki-laki dan perempuan, masuk surga bersama-sama, ‘Mereka dan isteri-isteri mereka terdapat di tempat yang teduh” (QS: Yasiin: 56)

”Masuklah kamu ke dalam surga, kamu dan isteri isteri kamu digembirakan” (QS: Al Zuhruf: 70)

Alloh ‘Azza wa Jalla juga menyebutkan bahwa dia akan menciptakan perempuan dengan penciptaan khusus: ”Sesungguhnya kami menciptakan mereka (para bidadari) dengan penciptaan yang khusus dan kami jadikan mereka perawan” (QS: Al Waqiah: 35-36)

Keterangan di atas menyebutkan bahwa Alloh ‘Azza wa Jalla akan menciptakan kembali perempuan yang sudah tua menjadi bidadari, dan membuat mereka perawan, begitu juga laki-laki yang sudah tua akan diciptakan kembali menjadi pemuda dan beberapa hadits ditunjukkan bahwa perempuan yang masih hidup mempunyai kelebihan dari bidadari karena peribadatan dan kepatuhan mereka.

Oleh karena itu perempuan yang beriman akan memasuki surga sebagaimana laki-laki yang beriman. Jika seseorang perempuan mempunyai sejumlah suami setelah kawin cerai dan dia masuk bersama mereka dan akan memilih yang berkelakuan paling baik.

Tinggalkan komentar

Filed under tausiah

Tiba Saatnya

Bukan Tami namanya kalau tidak bisa menyelesaikan liputannya dalam waktu singkat. Sesaat setelah menyimpan tulisannya di hard disk notebooknya, ia mematikan komputer seraya menghirup teh manis hangatnya. Sekarang tinggal menyerahkannya ke Mas Iqbal, redaktur liputan politik, bereslah tugasnya. Di luruskannya punggungnya yang kaku. Kemudian mengambil jaketnya yang tersampir di kursi. Diliriknya jam yang melingkari pergelangan tangannya, ah baru jam 10 malam, kemarin dia pulang hampir tengah malam. Kemarinnya lagi juga begitu.
Tami menyapa beberapa temannya yang masih asyik di depan komputer. Pasti mereka dikejar deadline tulisan juga pikirnya. Beberapa orang terlihat lelap dikursi, sementara layar monitornya masih menyala. Kalau sudah malam begini memang hanya tinggal beberapa orang saja yang masih ada di kantor. Biasanya para reporter yang dikejar deadline atau mereka yang memang tugasnya menyelesaikan proses naik cetak surat kabar agar sampai di tangan pembaca besok pagi. Bekerja sebagai wartawan memang tidak mudah, jam kerja yang tidak menentu, narasumber yang sulit dihubungi, semua membuat mereka kadang harus rela begadang. Tami juga sering begitu. Setelah pamit untuk pulang, ditekannya magnetic-card seraya menguap. Ah, penat juga rasanya. Didalam lift menuju lantai dasar sesaat Tami memejamkan matanya, lelah.
Pak Madi, satpam kantor menyapanya ramah di pintu keluar. Pulang Mbak? Hati-hati di jalan…”. Tami tersenyum sambil melambai. Pak Madi memang satpam tertua di kantornya dan sudah lama juga ia mengabdi di kantor tempat Tami bekerja. Bahkan sejak Tami belum bekerja di situ. Menurut teman-teman sejak perusahaan surat kabar ini didirikan hingga sekarang sudah menjadi perusahaan besar dengan oplag ratusan ribu eksemplar perhari dan tersebar diseluruh pelosok negeri. Itu sebabnya Pak Madi mengenal baik seluruh karyawan dikantor Tami.
Sesaat kemudian Tami sudah berada dalam Katana merahnya. Disusurinya jalan-jalan ibukota yang mulai lengang, sementara gerimis masih rinai sejak sore tadi. Ibu seperti biasa pasti belum tidur karena cemas menungguku pulang, pikir Tami. Ibu juga sering mengeluh, katanya pekerjaan wartawan sama saja dengan seniman, tidak punya ritme kerja yang jelas. Sering tidur malam dan bangun siang. Angin malam bertiup perlahan, sepotong bulan mengintip di langit gelap. Tami ingin segera sampai di kamar tidurnya. *****

Rapat redaksi hari ini sungguh membosankan sekali. Tidak seperti biasanya Tami terduduk lesu di kursinya. Dia tidak berselera mengikuti debat redaksi kali ini. Mungkin Tami lelah, akhir-akhir ini kondisi politik tidak menentu, berbagai macam issue bermunculan, begitu banyak berita dan nara sumber yang harus dikejar tapi semua sering membingungkan, tidak jelas mana yang benar. Hari-hari ini Tami sering merasa terkecoh. Sebagai reporter bidang liputan politik jelas kondisi sekarang melelahkan sekali. Apalagi Tami tergolong reporter andalan di kantornya. Ia sudah mulai bekerja sejak masih kuliah. Itu sebabnya dia cukup terlatih dan berpengalaman. Belum lagi memang Tami punya banyak kelebihan, cerdas dan cekatan. Hasil liputannya selalu mengagumkan. Tulisan- tulisannya pun tak pernah membosankan dengan analisa yang dalam. Karena itu Tami cukup diperhitungkan oleh perusahaan. Masa depan cerah, begitu goda teman-temannya. Tapi Tami tidak peduli, yang penting ia menyukai bidang pekerjaannya. Apalagi perusahaan memberinya imbalan lebih dari cukup atau setidaknya sebandinglah dengan kerja kerasnya.
Selesai rapat Tami kembali ke mejanya. Dia bersyukur karena Mas Iqbal tidak memberinya tugas liputan hari ini, itu berarti ada waktu luang sejenak karena beberapa tugas sudah diselesaikannya semalam. Sesaat dibukanya komputer di meja kerjanya. Ada beberapa email yang masuk, termasuk dari Nisa sahabatnya sejak di bangku kuliah. Tami membaca pesan singkat, “Tami yang sholihat…, pekerjaan seorang wanita harus dapat menunjang bertambahnya keimanan dan ketakwaan kepada Allah dan hendaknya kita tetap memiliki ahlak yang baik dan mampu menjaga diri”. Tami tertegun, lagi-lagi Nisa mengingatkannya.
Sambil menikmati es jeruknya, Tami melepas kebosanan di kantin kantor. Di saat bukan jam makan seperti ini, kafe memang tidak begitu ramai. Ia bisa lebih tenang sambil memandang taman gedung yang asri. Sesaat email Nisa mengganggu pikirannya. Unik memang persahabatan mereka, sejak masih di universitas mereka sering jalan dan diskusi bersama, tapi Nisa berbeda, kerudung dan sikapnya membedakan ia dengan yang lainnya. Sampai sekarang pun mereka masih bersahabat meski tidak sering lagi bertemu. Nisa sekarang menjadi dosen di universitas mereka dulu. Dibandingkan Tami, dari segi penghasilan jelas Nisa tertinggal jauh. Tami sering heran kenapa Nisa tidak mencoba menawarkan ijazahnya ke perusahaan-perusahaan besar. Mereka sama-sama punya IPK yang tinggi, kemampuan bahasa asing yang baik, dan pengalaman organisasi yang segudang. Tentu tidak akan sulit juga buat Nisa mencapai lebih dari yang ia dapat sekarang. Nisa juga memang mahasiswi berprestasi dengan segala macam kelebihannya. Tapi setiap kali Tami menanyakan masalah ini pada Nisa, ia cuma tersenyum. “Aku ingin punya waktu lebih banyak buat Bang Hanif dan anak-anak…” begitu jawabnya. Nisa memang sudah menikah, bahkan sejak beberapa saat sebelum ia lulus kuliah. Sekarang sudah ada Ikhsan dan Urfi, buah hati mereka.
Tami mengakui persahabatannya dengan Nisa banyak memberinya hikmah. Sering disaat Tami lalai Nisa mengingatkannya. Tidak jarang saat Tami berada ditengah kesibukannya mengejar berita ada sepotong pesan Nisa lewat radio panggilnya “Waktunya Shalat Dzhur, Tam…”, atau lewat email dan pesan-pesan singkat lain yang masuk di perekam telepon genggamnya. Nisa memang tidak pernah bosan mengingatkan meski Tami sangat sibuk dan sulit sekali dihubungi. Nisa bilang sesama saudara memang harus saling mengingatkan dalam kebaikan, itulah esensi persaudaraan dalam Islam. Pantas saja Nisa selalu gencar mengingatkannya. Sejak dulu Nisa memang sangat menginginkan kebaikan buat orang lain, meski dia sendiri sering repot dibuatnya. Ah, Nisa terbuat dari apa sih hatimu..bisik Tami. *****

Selasa siang di kantin kampus. Tami dan Nisa menikmati gado-gado favorit mereka berdua. Pedas- manis dengan harum perasan jeruk limau yang banyak. Dan tentu saja buatan Mbak Sum yang masih setia berjualan di kampus. Tidak putus obrolan mereka diselingi canda dan cerita nostalgia di bangku kuliah. Hari ini Tami memang mendapat tugas mewawancarai seorang tokoh pengamat politik yang juga pengajar di universitas mereka. Tentu saja kesempatan ini disambutnya dengan baik. Sekalian nostalgia di kampus dan bertemu teman-teman lama, Nisa terutama, pikir Tami. Kebetulan hari ini Nisa juga ada jadwal mengajar. Jadilah mereka janjian bertemu. Satu kesempatan langka ditengah kesibukan mereka masing-masing.
“Kelihatannya kamu tambah sibuk sekarang Tam. Hati-hati lho jangan terlalu asyik berkarier. Kapan menyusul aku dan Bang Hanif?” Nisa tersenyum memandangnya. “Ah, aku kan baru 29, masih banyak yang ingin aku kejar”, Tami berkelit sambil pura-pura asyik mengaduk es kelapa mudanya. Pertanyaan yang sering ditanyakan ibu juga, pikirnya. “Tami, manusia perlu berikhtiar dan berencana, meski pada akhirnya Allah juga yang menentukan semuanya. Kalau kita sudah berikhtiar tapi belum juga mendapatkan, itu lain lagi ceritanya. Aku tidak ingin kamu menyesal Tam..”. Nisa masih bijak seperti dulu, bahkan rasanya tambah dewasa sekarang. “Iya deh, aku memang terlalu asyik dengan pekerjaan. Jangan bosen ingetin aku ya…”. Tami menyerah. Nisa memang benar. Ibu juga sering khawatir. Apalagi sekarang Tami sering mendapat tugas liputan beberapa hari keluar kota atau bahkan ke luar negeri. Seperti minggu lalu. Kesibukan Tami semakin padat.
Obrolan mereka siang itu semarak dengan berbagai topik. Termasuk tentang karier seperti yang sebenarnya sudah sering Nisa ceritakan. Tentang syarat-syarat wanita bekerja. Tentang keseimbangan antara pemenuhan hak keluarga dan pekerjaan. Tentang harus menghindari campur baur yang berlebihan. Tentang pakaian. Dan tentang pekerjaan yang harus sesuai dengan fitrah kewanitaan.
“Aku tidak bermaksud mengatakan bahwa pekerjaan seorang jurnalis tidak baik dalam Islam. Tapi, please Tam…, semua ada aturan mainnya. Dien kita begitu sempurna mengatur semuanya. Jangan abaikan sinyal-sinyal itu. Untuk kebaikan kita juga”, Nisa berbicara perlahan dan hati-hati sekali.
Entah mengapa siang itu semua terasa lain di telinga Tami. Sepertinya suara Nisa lain dari biasanya. Atau apa karena sebelumnya Tami tidak pernah terlalu menggubrisnya. Wah, apa jadinya kalau aku tidak bersahabat dengan Nisa. Mungkin aku sudah semakin terseret dengan segala macam kesibukan kerja, pikir Tami. Makan siang bersama di kafe itu jadi semakin nikmat rasanya.
Sementara suasana kampus masih seperti dulu. Selalu ramai, hidup dan meriah. Selalu ada wajah- wajah baru menggantikan yang lama. Datang dan pergi silih berganti. Ah, seperti juga kehidupan ini. Tidak ada yang abadi. Hanya Allah dan kehidupan kelak yang tidak akan pernah berubah. Kekal selamanya. Angin semilir menyentuh mereka. Matahari cerah di atas sana. Langit yang biru jernih berhias gumpalan-gumpalan awan putih yang menakjubkan. Indah. Seindah persahabatan mereka. “Allah lindungi kami dari cinta dunia, yang semakin menjauhkan kami dariMu, yang mengeraskan hati dan melupakan kami akan hari pertemuan dengan-Mu…”.Doa Nisa di ujung shalat jamaah Dzhuhurnya bersama Tami. *****

Adzan Isya sudah agak lama berlalu. Langit gelap. Hujan gerimis perlahan menjadi lebat. Tami bergegas meninggalkan sebuah gedung. Sejak siang tadi dia menunggu seorang tokoh masyarakat di sana, ada berita yang harus dia buat sehubungan dengan peran tokoh tersebut di masyarakat. Dengan kelihaiannya, akhirnya Tami bisa juga bertemu tokoh tersebut, meski harus berbelit-belit dan menunggu cukup lama. Itulah konsekuensi pekerjaan, tapi aku puas bisik Tami, ada beberapa pernyataan yang bisa menjadi berita besar. Sekarang harus segera kembali ke kantor. Berita ini harus segera dirampungkan.
Tami berlari tergesa-gesa menuju tempat parkir. Halaman gedung sudah sepi dan agak gelap. Mungkin karena hujan dan suasana kota yang sedang tidak menentu. Orang-orang cenderung cepat pulang dan tidak keluar rumah jika tidak perlu benar. Ada cemas yang tiba-tiba menyelinap. Ah, kenapa tadi aku tidak pulang saja bareng teman-teman wartawan yang lain, sesal Tami. Mereka pulang lebih awal, tapi Tami bertahan, dia berharap masih bisa mendapatkan informasi tambahan. Tami bergidik, sesaat dia ingat berita-berita tentang kriminalitas ibukota yang meningkat, tentang preman-preman yang semakin nekat. Tapi aku harus pulang, keluhnya. Dia berlari menembus hujan. Tadi siang pelataran parkir gedung ini penuh mobil, karena tidak mau repot akhirnya Tami memutuskan parkir di sebelah gedung tersebut, sebuah bangunan besar yang sedang dikerjakan tapi agaknya terbengkalai tidak diteruskan, ditinggalkan separuh jalan. Puing-puing berserakan dimana- mana. Lagi-lagi Tami menyesal.
Di bawah pohon besar, di sisi sebuah bedeng tempat berteduh pekerja bangunan yang sepertinya sudah lama ditinggalkan begitu saja, Tami memarkir mobilnya. Tadi siang masih ada beberapa mobil lain yang parkir di situ juga, tapi malam ini tinggal satu saja, Katana merah Tami. Sesampainya di sisi mobil di bawah pohon, Tami sedikit bernafas lega. Dikibas-kibaskannya air hujan yang membasahi rambutnya. Jeans nya pun agak basah juga. Sesaat dia mendengar suara tawa-tawa dari dalam bedeng, Tami bergidik lagi segera ia memasukan anak kunci ke pintu mobilnya. Tiba- tiba ada beberapa lelaki keluar dari bedeng itu. Penampilannya seperti preman saja. Tami kaget, anak kunci jatuh dari tangannya, Tami meraba-raba di tanah. Gugup dan gelap semakin menyulitkan ia menemukannya.
“Cari apa Mbak ?”,laki-laki itu mendekat. “Nggak…ggak…”, Tami semakin gugup dan cemas. Perasaannya semakin tidak enak. “Jangan takut, kami mau bantuin koq”, kata salah seorang diantara mereka diikuti tawa yang lain. Sekilas ada empat orang yang Tami lihat. Dua diantaranya berjalan limbung, mungkin karena pengaruh minuman keras. “Boleh juga…” Tami mendengar bisikan itu dari salah seorang diantara mereka. Ah, apa yang mereka inginkan, kamera Nikon besar yang aku pegang ini, atau … Tami tersentak ketika salah seorang berusaha menyentuhnya. Seluruh tubuhnya lemas dan gemetaran, anak kunci belum juga ditemukan. “Apa-apain ini !”,Tami berusaha menghardik dengan tegas. Tapi mereka semakin berani saja bahkan ada yang menarik tangannya, keras sekali. Tami berontak. Dengan segala kekuatan yang tersisa Tami menjerit minta tolong sekerasnya. Tapi Tami terlalu lemah, suaranya seperti ditelan puing-puing yang berserakan dan gemuruh hujan yang semakin deras. Tami terus meronta dan menjerit sekuatnya. Allah tolong saya…, jerita hatinya tak henti.
Sesaat tarik menarik terjadi diantara mereka. Di saat tenaga Tami sudah semakin habis dan lemah, tiba-tiba ada suara yang menyentak “Hei..ada apa ini? Siapa kalian!”, ada dua orang berlari menghampiri mereka. Antara sadar dan tidak Tami mengenali dari seragamnya, satpam gedung sebelah. Di belakang mereka terlihat berlari beberapa orang lagi. Keempat lelaki setengah mabuk itu langsung berhenti menarik Tami. Tami terjatuh lemas. Tidak ada sedikitpun sisa tenaga lagi yang ia miliki. Bajunya koyak dan basah kuyup, tapi ia masih sempat bersyukur “Allah…terima kasih, alhamdulillah”. Setelah itu, Tami tidak ingat apa-apa lagi.
Ketika sadar Tami sudah berada di suatu ruangan yang terang benderang. Ada beberapa orang di situ, termasuk seorang ibu yang sedang membersihkan lecet-lecet di lengannya. Tami tersentak ketika sadar dan ingat kejadian yang baru menimpanya. “Tenang Dik, sudah aman di sini..”. Ibu itu mengusap rambutnya perlahan. Tami ingat ibunya di rumah, tangisnya tak terbendung lagi. Ibu itu memeluknya sambil menenangkan. Rupanya ia karyawati gedung yang kebetulan belum pulang kantor dan membantu merawatnya. “Sudahlah, tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi, bersyukurlah kepada Allah karena Ia masih melindungi adik”.Tami semakin terisak, pantaskah saya menerima pertolongan-Mu ya Allah…, shalat pun masih banyak yang saya tinggalkan. “Kalau ada yang sakit, mari saya antar ke dokter”, ibu itu berkata lembut sambil menyodorkan segelas air putih. Tami menggeleng, meski kaki dan tangannya terasa memar-memar. Air putih itu memulihkan sedikit tenaganya. “Terima kasih, saya ingin pulang, Bu…”
Setelah lukanya diolesi betadine dan istirahat secukupnya, Tami pulang sendirian. Sebenarnya ibu yang baik hati dan suaminya, yang ternyata sekantor itu, memaksa ingin mengantarnya pulang. Tapi hari sudah terlalu malam, pasti anak-anak mereka sudah menunggu di rumah, pikir Tami. Apalagi arah rumah mereka berlawanan. Tami juga sudah merasa kuat dan lebih enak. Sakit karena lecet dan memar di sekujur tubuhnya terhapus oleh rasa syukurnya yang dalam. Tidak henti Tami mengucapkan terima kasih pada semuanya. Tami merasa berhutang budi sekali.
Malam semakin larut. Hujan sudah berganti terang. Namun sisa-sisa hujan masih menyisakan dinginnya. Bulan purnama yang tadi tertutup awan tebal, sekarang mulai berpendar-pendar. Jalan- jalan kota sudah semakin lengang meski dihiasi lampu-lampu jalan. Diperjalanan pulang, air mata menetes lagi di pangkuan Tami yang letih. Hatinya tak henti mengucap syukur kepada Allah. Mungkin benar kata Nisa, semua harus ada akhirnya… (er)Cerpen Islami | AMINATUZ ZUHROH
XI IPA 1 / MAN NGAWI

Cerpen Islami

Aku adalah seorang anak yang di lahirkan di lingkungan pondok pesantren. Aku merasa kehidupan disini penuh dengan aturan aturan yang kadang membuat seseorang menjadi pemberontak. Aku sendiri sering mengalaminya, aturan tidak boleh keluar malam, tidak boleh kesana, tak boleh kesini, semuanya itu membuat jiwa muda ku seolah tak terima dengan itu semua. Aku punya dua orang adik, satu cewek dan satunya lagi cowok. Kedua adikku itu sangat baik , mereka sering membantu aku dan tidak pernah membantah apa yang aku katakan. Terlebih lagi adik ku yang cowok, dia sangat ku saying karena dia begitu pandai untuk merebut hatiku.

Aku kecil, tinggal di nganjuk, tepatnya di kertosono. Aku sangat senang disana, aku tinggal disana hanya dua tahun. Setelah itu aku ikut pindah kedua orang tuaku di ngawi. “ kenapa sih bii, kita harus pindah kesini?”, tanyaku dengan nada agak manja karena aku kecil memang sangat di manja oleh kedua orang tuaku. Pada saat itu adik ku yang cowok memang belum lahir.

“Kita pindah, karena memang sudah waktunya kita pindah”, jawab abi ku dengan nada santai dan sambil tersenyum dengan senyumnya yang paling manis.

Aku pindah ke ngawi ketika usia 7 tahun. Disini aku baru kelas dua sekolah dasar. Jadi di tempat yang baru aku dapat dengan mudah menyesuaikan diri dan mendapat banyak teman baru. Aku brsyukur karena ternyata anak anak disini tak seburuk yang aku kira. “ abi, besok aku ndak usah di antar lagi ke sekolah yaa….”, kataku pada abi setelah pulang dari sekolah ku yang baru. Lalu abi bertanya, “ kenapa, apa sudah punya banyak teman kamu disana?”. “ iya bi, aku besok mau berangkat sama siti’, jawabku sambil melangkah pergi meninggalkan abi ku yang sedang meneguk secangkir the manis di baranda rumah.

Keesokan harinya aku benar benar pergi sendiri ke sekolah, tanpa di antar sama abiku lagi. Saat itu aku baru merasakan rasanya ke sekolah sendiri tanpa ada yang mengikuti dari belakangku. “ ach, ternyata enak ya jadi anak desa, kemana mana bias bebas tanpa kawalan dari orang orang yang menyebalkan itu”, kataku pada siti yang saat itu brjalan disampingku.

“ iya, kamu bener. O iya, emangnya kamu sering di kawal ya? Uh enak donk kemana mana ada yang jagain, ada yang bawain barang barang kita…hehehe”, kata si siti sambil berlagak seolah mengejek aku.

Aku pun menajawab dengan menahan emosi, karena aku tak suka dengan kata kata itu. “ ach, jangan bilang gitu, nggak enak tau. Kita nggak bias bebas berekspresi , nggak bisa bebas nentuin mau kita.

Saat aku bilang seperti itu siti langsung diam, dan tak bicara sepatah katapun dan tak terasa kami sudah tiba di gerbang sekolah. Pada saat itu masih sangat pagi, jadi teman teman yang lain belum dating ke sekolah. “ mungkin mereka masih tidur kali yee…..”, celetuk siti dengan nada agak sebel karena berangkat terlalu pagi. Aku hanya tersenyum menanggapi sifat siti yang seperti itu. Lalu kami memutuskan untuk membersihkan kelas bersama sama walaupun pada waktu itu bukan giliran kami berdua yang piket. Kan kata abi ku umat islam itu harus saling tolong menolong. Jadi apa salah nya kalau aku membantu teman yang lain untuk piket kelas. Aku kira sah sah saja. Abiku selalu mengajarkan aku u nuk saling tolon menolong, beliau bilang kalau kita mau menolong orang lain maka suatu saat kita juga akan di tolong oleh orang lain. Kata kata itu selalu aku ingat sampai sekarang.

Enam tahuun sudah aku sekolah di sekolah dasar wonoasri 2, dan Alhamdulillah aku selalu mendapatkan juara pertama. Bahkan pada waktu lulusan ujian nasional di umumkan , aku adalah di nobatkan sebagai seorang siswi yang punya nilai danun tertinggi. Aku sangat bersyukur dengan hal itu, karena dengan itu aku sudah mampu membahagiakan kedua orang tuaku. “ terima kasih ya allah , engkau memveri hambamu ini kejernihan dalam berpikir, sehingga hamba dapat mengerjakan soal ujian hamba dengan baik”, ucap syukurku dari dalam hati sambil ku peluk abiku yang paling aku saying.

Setelah pengumuman kelulusan , liburanpun tiba. Aku tak mau menyia nyiakan waktu liburanku. Aku bersama abiku mencoba mencari SMP untuk aku melanjutkan sekolah nanti. Pada awalnya abiku menyuruhku melanjutkan sekolah di MTs, tapi aku tak mau, karena kebanyakan temanku melanjutkan ke SMP wonoasri 2. Akhirnya abiku mengijinkan aku untuk sekolah disiitu dengan syarat harus memakai kerudung. Karena kita kan umat muslim , jadi harus memakai kerudung untuk para wanitanya, itu sudah menjadi kewajiban kita “ , terang ibuku dengan panjang lebar. Aku hanya menurut, walau pun pada saat itu aku dalam keadaan terpaksa, tapi aku tak mungkin membantah perintah abiku yang paling ku sayang.

Tiga tahun sudah aku sekolah di SMP wonoasri 2, aku lulus dengan nilai yang cukup tinggi. Makla dari itu aku tidak terlalu sulit untuk mencari sekolah yang lebih tinggi. Aku memutuskan untuk sekolah di MAN 1 wonoasri, sesuai permintaan abiku. Aku sangat bersyukur bisa mempunyai seorang abi yang sangat baik, prhatian, dan sangat mengerti aku. Entah kenapa aku lebih sayang kepada abiku, di banding kepada ibuku.

Pada saat sekolah di MA inilah aku sangat merasakan betapa sayangnya abi padaku. Aku di antar setiap pagi, dan di jemput pada sore harinya. Beliau melakukan itu dengan ikhlas, tanpa mengeluh sedikitpun walau kadang beliau harus menunggu aku selama satu jam.

“ aku sayang abi”, ucapku sambil mencium kening abiku yang sedang terlelap di teras rumah.

“abi juga sangat sayang sama kamu nak”, kata abi ku yang terbangun dari tidurnya.

Aku saat itu sangat malu, karena tingkah ku masih serti anak kecil yang masih sangat manja kepada kedua orang tuanya. “ hehehe, abi bangun ya……mau teh hangat bi???”, aku selalu menawarkan itu setiap sore hari yang pekat.

“ boleh”, kata abiku sambil mengelus kepalaku. Begitulah abi selalu memanjakan aku.

Tidak lama kemudian aku dating jke teras rumah membawa teh manis yang abi pesan tadi. “ tidak terasa sebentar lagi kita sudah berpuasa ramadhan”, ucap abi yang mengawali pembicaraan di sore yang cerah itu.

“ iya bi, kita sudah hamper memasuki bulan ramadhan lagi”, jawab ku dengan nada agak bercanda, karena aku suka bercanda dengan abiku.

“ kita harus bersyukur nak, karena allah masih mengijinkan kita untuk bertemu dengan bulan ramadhan “, kata abiku.

“ iya bi, kasihan mereka yang sudah tidak bisa bertemu dengan bulan ranadhan, apalagi mereka yang mati dalam keadaan tidak baik, misalnya kemarin aku liat d tv, ada 10 orang mati karena minum miras oplosan. Mengenaskan dan merugi kan bi????”, jawabku dengan panjang lebar.

Tak terasa adzan maghrib pun telah berkumandang . abi menyuruhku cepat mengambil air wudhu dan sholat berjamaah di masjid depan rumahku. Abiku selalu menjadi imam di masjid itu , jadi aku tak prlu malu malu untuk dating setiap saat ke masjid itu. Aku benar benar di perlakukan istimewa oleh warga di sekitar masjid itu. Hal itulah yang justru aku sangat tidak aku sukai. Karena dari kecil aku memang tidak suka jika di perlakukan special. Tapi mereka tetap saja memperlakukan aku berbeda dengan anak orang lainnya. Kadang aku berpikir, kapan aku dapat menikmati hidup seperti layaknya anak remaja?.

“ tapi rasanya itu tak mungkin, karena allah menciptakan aku di sini, di lingkungan yang agamis. Di lingkungan yang penuh peraturan , di lingkungan yang penuh dengan pantangan pantangan, aku harus mensyukurinya. Karena masih banyak anak manusia yang tidak punya tempat tinggal, bahkan mungkin mereka tidak punya abi yang sangat penyayang seperti abiku”, kataku dalam hati, setelah pulang dari masjid.

“door”, suara teriakan yang keras dari adik ku itu sungguh membawaku keluar dari lamunan.

Adik ku yang cowok itu mengajak aku untuk masuk ke dalam rumah dan makan malam bersama seluruh keluarga. Adik ku sangat suka bercanda. Tapi dia tau kalau sedang di meja makan dia tak boleh mengucapkan sepatah katapun. “Mungkin perasaan adik ku sama denganku. Merasa kalau keluarga ini di selimuti dengan banyak aturan”, aku hanya bisa berucap dari dalam hati.

Bulan puasa telah tiba, dan menjelang hari raya keluarga ku sangat di sibuk kan dengan berbagai macam aktivitas. Apalagi pada hari raya kecil atah ketupat, bibi ku menikah. Jadi sungguh repotnya lebaran tahun ini.

Di hari terakhir berpuasa, aku tak tau kenapa abiku jadi senang sekali. Beliau di tugaskan menjadi imam di masjid depan rumah ku, tapi beliau menolaknya. Dan memilih menjadi khotib saja. Takmir masjid tak kuasa menolak kemauan abi ku. Jadi mereka berusaha untuk mencari seseorang yang pantas untuk jadi imam. Anehnya lagi, kenapa pada saat orang sibuk menyiapkan pernikahan bibiku, abiku hanya diam saja. Seolah abi itu tak merestui adanya pesta pernikahan itu.

Akhirnya hari pernikahan itu tiba. Abi selaku anak tertua menggantikan mbah kakung ku menjadi wali di pernikahan. Pada hari itu abi sangat bahagia. Wajahnya berseri, seolah ia bertambah muda, senyumnya, suaranya yang sangat bijak itu terdengar begitu asli saat berbicara.

“bi, make up nya kok jelek banget si? Aku jadi kelihatan tua nie”, kata ibuku sambil berkaca di depan cermin.

Abiku tersenyum dan hanya menjawab,” kamu cantik kok, cantik sekali. Lebih cantik dari biasanya”.

Ibuku tersenyum mendengar ucapan abiku. Lalu abiku harus bergegas mengurus pernikahan yang di rayakan di rumah nenek. Sekitar dua km dari rumahku. Setelah pesta pernikahan usai, aku mengajak abi pulang. Tapi abi masih banyak tamu, jadi aku dan kedua adik ku pulang terlebih dahulu.

Sore harinya abi baru sampai rumah, dan cepat melaksanakan kegiatan seperti biasa yaitu sebagai imam masjid. Dan setelah pulang dari masjid sehabis sholat maghrib, abi berniat untuk pergi mengisi pengajian d suatu desa. “ nggak usah dulu lah bi, abikan belum istirahat dari tadi pagi”, kata ibuku yang khawatir dengan keadaan abi.

Tut tut tuuuuut…..telfon rumahku berdering saat ibu sedang bercakap cakap dengan abi. Abi langsung mengangkat telfon itu yang ternyata dari bibi ku. Bibi nku meminta abi kembali lagi kesana karena aka nada acara kumpul keluarga besar bani khotib amnan.

“ aku masih ngisi pengajian dulu, nanti aku pasti dating. Walau jam 12 malam aku pasti dating. Jadi tunggu aja”, kata abiku dengan nada santai dan aku hanya mendengar kata itu dari dalam kamarku.

Pukul setengah tujuh abi berangkat menuju tempat pengajian. Tidak lama kemudian ada dua orang laki laki dating ke rumah ku dengan tergopoh gopoh. Lalu mereka menanyakan” apa brenar ini rumah bapak nur ali?”. Ibuku kaget dan langsung menjawab “iya”.

Ternyata kedua orang tadi member kabar kalu abiku kecelakaan. Sungguh hancur hatiku mendengar berita itu aku tak sanggup lagi, belum tau kadaan yang aku tak mau kehilangan abi yang ku sayang, aku tak mau”, kataku dalam hati.

Ibuku pun langsung bergegas menuju tempat kejadian perkara dan ternyata abiku parah. Aku benar benar seperti manusia tak berguna lagi. Saat abiku di bawa ke rumah sakit beliau selalu menyebut nama ALLAH, ALLAH, ALLAH degan tanpa henti dan sekujur tubuhnya yang tinggi besar itu berlumuran darah.

“ ingin menjadi khotib, memuji kecantikan ibu, janji dating jam 12 malam. Apa itu pertanda?” Tanya ku dati dalam hati sambil menangis teredu sedu di rumah sakit.

Kehancuran hatiku bertambah lagi, abiku tak terselamatkan dari kecelakaan itu. Beliau meninggalkan aku dan ibu ku serta adik adik ku sendiri di dunia. “ ya allah kau tak adil, kenapa kau ambil orang yang paling aku sayang?”, aku brteriak sekeras kerasnya.

Pukul 3 pagi abiku di makamkan, aku melihat sina di wajahnya begitu terang, senyumnya, masih terus teringat di kepalaku sampai sekarang.

Abi pernah berkata “ syukur itu indah, jika kamu di beri allah kehidupan syukurilah, jika kamu di beri allah nafas syukurilah. Bersyukurlah selagi kamu dapat bersyukur.

“Tapi bagaimana aku dapat bersyukur padamu ya Allah??? Engkau telah mengambil yang paling berharga di hidupku”, gumam ku dalam hati setelah 7 hari meninggalnya abiku.

Menangis, menangis dan menangis, lalu pada suatu malam. Abi dating di mimpiku. Abi terlihat sangat tampan, beliau berada di tempat yang indah yang sepertinya tidak ada di bumi ini. Beliau berbisik di telingaku “ sayang, syukurilah apa yang kau punya, syukurilah sekarang abi sangat bahagia, bersyukurlah kau masih dapat bernafas.sayang jika kamu mau mensyukuri nikmat allah, sesungguhnya kamu gadis yang sangat beruntung.”

Aku terperangah dari tidurku, dan merenungi apa yang di bisik kan oleh abiku. Aku rasa benar, aku gadis yang paling beruntung. Aku di lingkungan ini terjaga kehormatan ku, aku punya abi dan ibu yang sangat penyayang, punya saudara yang begitu perhatian. “ aku berjanji padamu abi, aku tak akan mengeluh dan selalu mensyukuri nikmat yang diberikan allah padaku, I will miss you abi”, kataku dalam hati.

Tinggalkan komentar

Filed under Cerpen Penuh Inspirasi